Sebagai anak rantau yang sudah pasti jauh dari sanak saudara, terutamanya orang tua. Pernahkah kalian merasa berdosa/bersalah pas lagi makan enak atau lagi nongki-nongki di cafe sama teman-teman kalian???

Kalau iya, sama aku pun pernah berpikiran gitu.

Dalam pikiranmu,  di rumah ayah sama ibu makan sama apa ya?? ini duit yang buat beli makanan kan duit dari mereka, kok foya-foya sih??

Walau sebenarnya orang tua dengan tulus ikhlas memberikan apa saja untuk anakanya, agar anaknya tetap sehat dan gembira di perantauan. Kalau anak perantauan yang sudah bisa cari duit sendiri sih, tidak masalah ya foya-foya dengan uang hasil jerih payah sendiri. Tapi, kalau mereka yang masih mengandalakan uang kiriman dari orang tua, tentu hal foya-foya ini perlu dibatasi.

Awal bulan foya-foya, pertengahan mulai makan di warteg, akhir bulan jadi sobat misqin. Ya begitulah. Kehidupan perantauan yang masih bergantung dari OrangTua Foundation. 

Solusinya bagaimana yaa, agar supaya tidak selalu menjadi sobat misqin di akhir bulan???
ahh akupun masih butuh bannyak berlatih. 

Menabung sudah dilakukan, ehhh malah celenganya dibongkar.

Tidak makan di luar, ehh malah delivery Ka Ef Ce

Membatasi Kuota, eh malah streaming indonesian idol *jangan lupa dukung Abdul yaaa

Lalu solusi seperti apa yang harus dilakukan???

Hanya merasa bersalah/berdosa katika makan enak, eh besoknya makan enak lagi. Gak taunya makan enak (baca : junkfood) itu tidak sehat. 

Laporan ke ortu kalau sakit,yaaah keluar duit lagi...


Yaaah apapun itu teman-temanku tetap semangat untuk menjalani hari hari kalian yaaa...


Mifta, yang sedang afraid

0 Comments